Mengenai Saya

Foto saya
gag tw harus ngomong apah...hanya mau memberi tahukan, pernah denger pepatah seperti ini "Kalau kamu bukan seorang anak dari kiai atau raja maka jadilah kamu seorang 'PENULIS' (Al-ghazali)" hemp....i2 impian saya akan diri saya, entah sampai kapan akan baru terwujudnya. Saya merasa saya bukanlah anak konglomerat, presiden, atau raja yang duduk di atas singgasana tertinggi yang cara hidupnya serba mewah. Aku hanya menginginkan PEPATAH itu agar terjadi pada setiap tubuh manusia, agar bukan hanya satu, dua yang bisa menginspirasikan pikiran dan keinginan untuk bercerita tentang kehidupan orang lain atau dirinya sendiri. Tapi semuanya, ya...semuanya.
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Bangkit Kembali !!!



Aku berdiri di depan sebuah bangunan besar setelah lama aku tidak pernah mengunjunginya. Mataku kagum menatap bangunan serba besar itu, sebuah masjid dengan kilauan emas yang terlihat menyejukkan hati, sebuah masjid dengan arsitekturnya yang tidak pernah kulihat dimana-mana, sungguh indah. Mulutku menganga seperti memakan bakso besar yang aku sendiri tidak dapat mengunyahnya. Kakiku terasa kelu, oh inikah bangunan yang dulu, bangunan yang semasa aku masih sekolah, bangunan tak berwarna, bangunan yang dulunya adalah hanya tanah lapang penuh pepohonan, bangunan yang masih dalam proses, yang dulunya aku sempat berfikir kalau bangunan itu akan jadi setelah bertahun-tahun kemudian. Tapi semua pikiran bodoh itu tidak benar, hari ini aku melihatnya setelah hampir satu tahun setelah aku meninggalkan pondokku, pondok penuh cinta. Tapi hari ini benar-benar nyata. Hari ini berubah 100%. Apalagi setelah aku melihat bangunan elok nan megah ini, aku merasa telah hidup kembali. Pondokku, tempat tinggalku telah bangkit kembali. oh andaikan aku juga bisa bangkit kembali setelah aku meninggalkan dunia tulis menulis ini!!!
Mataku masih melihat nanar kearah masjid super indah itu, terselip pikiran apakah aku bisa indah sepertinya, apakah aku bisa bangkit sepertinya. oh…andaikan aku bisa secepat itu.
Sebuah tangan memegang pundakku, aku melihatnya.
“Kenapa? kaget? Aku juga sama sepertimu. Mataku tidak bisa beralih dari bangunan indah ini, Aku sampai mengucapkan subhanallah berkali-kali.” ucapnya lantas tersenyum kepadaku.
Aku terdiam, entah aku tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata teman dekatku ini juga mempunyai pikiran yang sama denganku. Lalu ia mengajakku memasuki arena pondok kita dulu.
“Pondok ini lebih indah dari yang kubayangkan” ucapku kepadanya. Dia hanya membalasnya sambil tersenyum. Akupun juga ikut tersenyum. Dia memegang pundakku, merangkulnya. Lalu mengajakku naik ke atas tangga, menyelinap di antara anak-anak santri yang melihat kita dengan wajah penasaran. Atau bisa dibilang ‘bukankah itu…” tapi mereka hanya berfikiran seperti itu. Tidak ada kata sapaan atau yang lainnya.
Kami berjalan melewati kamar-kamar yang berderet, lantainya bersih, mengkilat, tempat sampah dan rak sepatu di  setiap sudut tiap kamar tertata rapi. Mungkin penjagaan kebersihan tahun ini tertata rapi ketimbang dulu. Aku berulang kali tersenyum-senyum sendiri.
Temanku memberhentikan langkahnya di depan pagar yang terbuat dari batu bata itu. Tepat mengarah pada masjid super indah itu, dia merentagkan tangannya sambil menghirup nafasnya, lalu seraya mau meneriakkan kata-kata keras tapi yang keluar hanyalah desahan suara yang terdengar lembut.
“Subhanallah!!!! ini sungguh luar biasa!!!” ucapnya sambil memejamkan matanya.
Aku tertawa menahan prilakunya, dia lalu melihatku karena dia merasa terganggu karena tertawaku yang memang cukup kencang itu.
“Ada yang salah, aku meneriakkan kata-kata itu!!!” dia tidak terima, wajahnhya terlihat marah. Aku jadi bersalah kepadanya padahal aku hanya tertawa karena memang terlihat lucu prilakunya seperti itu.
“Tidak” jawabku asal.
“Lantas??” dia tidak terima, seperti polisi yang menanyai tersangka yang tidak mau mengaku.
Aku terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaanya. Sempat ada rasa takut dan bersalah kepadanya, kenapa aku tadi menertawainya. Bukankah itu suatu hal yang menurutnya benar-benar kagum. Aku jugapun merasakannya, tapi aku tidak melakukan hal seperti itu.
Dia tba-tiba tertawa terbahak-bahak, “takut ya….” ledeknya kepadaku. Aku lalu tersenyum, lalu memukul punggungnya. Aku dibohongi.
“Beberapa orang juga berfikiran seperti itu, dia menertawakanku. Menertawakan apa yang kulakukan ini. Tapi mereka semuanya tidak tahu, mereka memang kagum dengan masjid ini. Tapi mereka hanya memandanginya, dan membanggakan-banggakannya tapi tidak merasakannya.”
Aku mencoba memahami maksud dari ucapannya, tetapi tidak berhasil. Tiba-tiba hpnya berbunyi, lalu dia pergi dari tempat itu untuk mejawab telfonnya. Aku lalu melihat kearah masjid itu, kilauan warnanya membentuk cahaya. bangunannya memperlihatkan tanda kekuatan santri disini. Arsiteknya seperti bicara kalau pondok ini punya segala jenis kesenian, bakat dan segala bentuk imajinasi dan inspirasi. Tak terasa air mataku menetes, aku tidak pernah merasakan kedamaian hati seperti ini. Dan tanganku tiba-tiba terangkat, lalu membentuk sudut vertical. Mataku terpejam, air mataku menetes kemana-mana. Mulutku bergeming.
“Subhanallah…Subhanallah…Subhanallah…indahnya…..aku ingin bangkit sepertimu, aku ingin terlihat indah sepertimu, dan aku ingin baik dipandang sepertimu.” ucapku berkali-kali. Air mataku tidak berhentinya menetes. Dan sebuah tangan merangkulku dari belakang, aku sontak kaget. Tanganku langsung jatuh kebawah tanda menahan malu.
“Kenapa? teruskan wahai sahabatku…aku tidak akan menertawaimu” ucapnya. Dalam lubuk hatiku yang paling dalam ada rasa kagum kepadanya, ada rasa getaran kecil ketika mendengar ucapannya. Oh andaikan aku bisa sepertinya.
“Benar katamu, semuanya tidak bisa di pandangi, dibangga-banggakan tapi dirasakan.” ucapku akhirnya, dan aku berhasil memahami ucapannya yang tadi sempat membuatku bingung.
Lalu dia mengajakku turun dari tempat itu, kami berniat pulang. Sebelum untuk terakhir kalinya aku bisa melihatnya lagi yang entah sampai kapan aku baru bisa mengunjungi pondokku itu. Aku mendoakannya dalam hati, mudah-mudahan tempat ini suatu saat nanti akan menjadi tempat besar, tempat para pencari ilmu, tempat para orang-orang sukses, dan segala kebaikan berada di dalamnya.
Tak terasa air mataku menetes lagi tanpa sepengetahuan temanku. Mulutku bergeming “aku ingin bangkit kembali, harus!!!!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar